Kelola Keuangan Secara Syariah


Ilustrasi: global-visiontech.com

Dalam kehidupan seorang muslim, segala aktivitas yang dilakukan di dunia ini tidak dapat dilepaskan dari agama, termasuk dalam aktivitas ekonomi. Karena apa yang kita lakukan di dunia kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Lalu bagaimana cara mengatur keuangan pribadi yang sesuai dengan prinsip syariah?

Berikut kami sarikan dari kajian manajemen keuangan syariah yang disampaikan secara ringan oleh Dr. Adiwarman Karim, SE, MBA, MAEP (Pakar Ekonomi Syariah).

Pada dasarnya, pengelolaan keuangan personal sesuai syariah menyangkut 2 (dua) hal:

1. Incoming: Darimana Anda memperoleh harta?

Prinsip incoming (pendapatan) yaitu "jangan pernah ada harta yang haram". Yakinlah pada Allah bahwa harta/rezeki kita tidak akan bertambah dengan cara-cara yang haram. Meskipun secara fatamorgana terlihat bertambah.

Mari kita simak cerita berikut.

Alkisah, ada 2 kelompok nelayan, kelompok nelayan yang satu ahli maksiat, sedang kelompok yang lain ahli ibadah. Yang ahli maksiat ini 'ndilalah' hasil tangkapannya banyak, sedangkan yang ahli ibadah, hasil tangkapannya pas-pasan.
Suatu hari, kelompok nelayan yang ahli ibadah ini merasa jenuh dengan hasil yang cenderung sedikit. Akhirnya mereka mencoba maksiat kecil-kecilan. Ternyata pada hari itu hasil tangkapannya melimpah dan ketika membelah perut ikan, ditemukanlah sebuah mutiara yang indah. Si nelayan lalu berfikir, apakah ini rezeki dari Allah, atau dari syaitan?
Karena takut, mereka membuangnya lagi ke laut, segera bertaubat, dan memutuskan untuk mencari ikan di tempat lain. Di tempat yang lain, ternyata hasil tangkapannya juga berlimpah, dan ketika membelah perut ikan, ditemukan lagi sebuah mutiara yang indah serupa dengan yang tadi ditemukannya.

Lalu apa pesan dari cerita tersebut?

Sebagai seorang muslim, kita harus meyakini bahwa rezeki kita sudah diatur oleh Allah. Kalau memang sesuatu sudah ditakdirkan menjadi milik kita, tidak ada yang bisa menghalanginya. Pun ketika suatu harta ditakdirkan bukan menjadi rezeki kita, sekeras apapun usaha kita, maka harta tersebut tidak akan pernah menjadi milik kita.
Allah SWT telah menentukan rezeki kita, tinggal bagaimana cara kita menjemputnya. Mau memilih cara yang halal atau yang haram.
Jangan sampai Allah sudah memberi rezeki pada kita, tetapi kita tidak mau mengambilnya. Ibarat orang mau makan, sudah disediakan aneka makanan di depannya, kemudian kita meminta kepada Allah agar disuapkan makanan tersebut ke mulut kita. Tentu tidak demikan.
Kalaupun rezekimu hari ini sedikit, positive thinking saja. Everything has its own time. Semua ada waktunya. Teruslah berikhtiar dengan cara-cara yang halal sambil berdoa memohon keluasan rezeki.

2. Outgoing: Untuk apa hartamu dibelanjakan?

Prinsip outgoing (pengeluaran): "Dapat uang, segera keluarkan!" Wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquun.
Pos-pos outgoing:

a. Zakat
Terapkan prinsip TERIMA-KASIH.
Rumusnya,
- Dapat uang tanpa effort (usaha) seperti: harta temuan, tarif 20%.
- Dengan effort tetapi sedikit, Allah memberi diskon setengahnya, tarifnya menjadi 10%.
- Dengan effort yang lumayan keras, harus menanam, menyiram, baru memanen. Maka tarifnya menjadi 5%.
- Dengan effort yang sangat keras, tarifnya 2,5%.
Intinya, semakin sedikit effort, semakin besar zakat yang harus dikeluarkan. Semakin banyak (keras) effort, semakin sedikit zakat yang harus dikeluarkan.

b. Konsumsi
Pastikan konsumsi hanya yang halal-halal saja. Tetap menjaga pola hidup sederhana, agar sensitifitas kita sebagai makhluk sosial tetap terjaga.

c. Tabungan
Tabungan ini berbeda dengan investasi. Tips menabung: Cari yg principal guaranteed, yaitu yang jumlahnya terjaga, yang risk free (bebas risiko). Contoh: emas batangan, perhiasan (ada biaya produksi 30%), deposito / tabungan (yang syariah).
Prinsip fiqih: Sesuatu yang tidak bisa dilakukan sepenuhnya, jangan ditinggalkan sepenuhnya. Jika Anda belum merasa nyaman untuk memindahkan seluruh tabungan/deposito dari konvensional ke syariah, pindahkanlah semampunya dulu, misal 20% atau 30%.
Tabungan ini menurut peruntukannya dibagi menjadi 2 (dua):
- Komitmen : suatu kebutuhan yang dapat diprediksi dengan pasti jatuh temponya, contoh: biaya pendidikan, ongkos naik haji, dll.
- Kontinjen: suatu kebutuhan yang kita tidak tahu kapan jatuh temponya. Contoh: sakit.
Ada 2 cara untuk mengelola kebutuhan kontinjen ini: (1) Sediakan pos tabungan tersendiri; atau (2) Asuransi syariah.

d. Investasi
Dalam memilih instrumen investasi, tanyakan terlebih dahulu pada diri Anda, seberapa besar kesiapan mental Anda menerima risiko.
Tips: Cari instrumen investasi yang sesuai dengan karakteristik Anda terhadap risiko. Bisa dalam bentuk saham syariah, reksadana syariah, obligasi syariah (sukuk), bisnis, franchise, dll. Jangan gunakan uang belanja untuk investasi.

Demikian sekilas tentang pengelolaan keuangan pribadi secara syariah. Semoga bermanfaat.

Komentar

  1. Nice sharing mbak. Saya dapat ilmu baru yang perhitungan zakatnya itu. Seneng juga ada yang posting tentang syariah financial planning.


    Salam

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bulek dan Reminder dari Gusti Allah (bag.2)

Bulek dan Reminder dari Gusti Allah (bag.1)

Rasanya Baru Kemarin..